Selasa, 22 Maret 2016

by : Citra Faradilla Putri (F1C014023)

Digital Devide di Indonesia

Digital divide atau kesenjangan digital mempunyai arti sebagai kesenjangan antara individu, rumah tangga, bisnis, (atau kelompok masyarakat) dan area geografis pada tingkat sosial ekonomi yang berbeda dalam hal kesempatan atas akses teknologi informasi dan komunikasi/TIK (information and communication technologies/ ICT) atau telematika dan penggunaan internet untuk beragam aktivitas. Jadi, digital divide atau ―kesenjangan digital‖ sebenarnya mencerminkan beragam kesenjangan dalam pemanfaatan telematika dan akibat perbedaan pemanfaatannya dalam suatu negara dan/atau antar Negara (Baszlink, 2011).

Ketakseimbangan yang terjadi ini bisa saja berupa ketakseimbangan yang bersifat fisik (tidak mempunyai akses terhadap komputer dan perangkat IT lainnya) atau yang bersifat keterampilan yang diperlukan untuk dapat berperan serta sebagai warga digital.  Jika pembagian mengarah kepada ke kelompok, kesenjangandigital ini dapat dikaitkan dengan perbedaan sosial ekonomi misalnya antara si kaya dan si miskin, generasi misalnya antara yang tua dan yang muda dan geografis(perkotaan/pedesaan)

Istilah digital divide atau kesenjangan digital mulai dikenal pada pertengahan tahun 1990. Kesenjangan digital merupakan suatu cara untuk mendeskripsikan perbedaan antara orang yang bisa mengakses internet dengan orang yang tidak mengakses internet. Terdapat beberapa karakteristik yang dapat membantu untuk memahami kesenjangan digital, yaitu pendapatan, umur, jenis kelamin, ras, etnis, pendidikan, latar belakang bahasa, dan wilayah geografis. Norris dalam Digital Divide: Civic Engagement, Information Poverty, and the Internet Worldwide (2001:68) menjelaskan bahwa ada tiga dimensi yang menggambarkan tentang kesenjangan digital, yaitu kesenjangan sosial, kesenjangan global dan kesenjangan demokratis.

Kesenjangan sosial yang dimaksud dalam konteks ini adalah celah antara orang yang kaya informasi dengan orang yang miskin informasi dalam suatu negara. Kesenjangan ini terjadi ketika di suatu negara terdapat masyarakat yang dapat mengikuti perkembangan jaman yang ada dan disatu sisi terdapat masyarakat yang tidak dapat mengikuti perkembangan jaman. Kasus ini terjadi di Indonesia, contohnya sebagian besar masyarakat Indonesia sudah mengikuti perkembangan jaman sehingga sudah secara bebas dan leluasa dapat mengakses informasi yang ada. Namun disisi lain terdapat masyarakat yang sama sekali tidak mengetahui tentang adanya internet, yaitu Suku Badui dan suku-suku lainnya yang berada di Indonesia sebagian besar dari mereka menutup diri dari peradaban luar sehingga informasi yang diterima juga sedikit.
Kesenjangan global terjadi ketika terdapat celah antara negara berkembang dan negara industri. Kesenjangan digital ini dapat terjadi jika negara industri sudah mengembangkan berbagai teknologi secara maju, sedangkan negara berkembang masih dalam proses untuk menerima perkembangan teknologi. Amerika sebagai negara industri telah menggunakan hologram sedangkan di Indonesia sendiri masih belum begitu mengerti tentang hologram. Akan terjadi kesenjangan digital jika masyarakat Indonesia berada di Amerika, karena perkembangan teknologi yang berbeda.
Kesenjangan demokratis dapat terjadi jika seseorang menggunakan internet sebagai partisipasi dalam kewarnegaraan dan seseorang yang lain menjadi konsumer yang pasif dalam penggunan internet. Kesenjangan-kesenjangan yang terjadi di atas merupakan karakteristik terjadinya kesenjangan digital yang menjadi pokok pembicaraan akhir-akhir ini. Teknologi sudah semakin berkembang dan masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengerti tentang perkembangan teknologi yang ada, inilah penyebab dari kesenjanga  digital atau digital divide.

Penyebab digital divide dikarenakan faktor-faktor antara lain sebagai berikut (YohanisMallisa', 2009):
1.      Infrastruktur
Infrastruktur merupakan sebuah fasilitas pendukung kelancaran dalam mengakases suatu teknologi. Infrastruktur tersebut misalnya listrik, internet dan komputer. Sebagai contoh mengenai kesenjangan infrastruktur ini, orang yang punya akses ke komputer bisa bekerja dengan cepat mengerjakan tugasnya dibanding orang yang masih menggunakan mesin ketik manual. Contoh yang lain, orang yang mempunyai akses ke komputer dan ke Internet, otomatis mempunyai wawasan yang lebih luas ketimbang mereka yang sama sekali tidak punya akses ke informasi di Internet yang serba luas.
2.      Kekurangan skill (SDM)
Sumber daya manusia sangat berpengaruh dalam dunia ilmu teknologi dan informasi karena SDM ini menentukan biasa tidaknya seorang mengoperasikan atau mengakses sebuah informasi.
3.      Kekurangan isi (konten) materi bahasa indonesia
Konten berbahasa Indonesia menentukan bisa tidaknya seorang dapat mengerti mengakses Internet. Pada daerah dengan orang yang mempunyai tingkat pendidikan lebih tinggi dapat lebih mudah memahami konten berbahasa Inggris dibandingkan daerah dengan orang yag berpendidikan lebih rendah. Oleh karena itu konten sangat perlu disesuaikan dengan daerah masing-masing. Daerah pedesaan sebaiknya diberikan konten dengan lebih banyak bahasa Indonesia,sehingga mereka lebih mudah untuk memahami isi konten tersebut.
4.      Kurangnya pemanfaatan akan internet itu sendiri.
Berbicara mengenai kesenjangan digital, bukanlah sematamata persoalan infrastuktur. Banyak orang memiliki komputer, bahkan setiap hari, setiap jam- bisa mengakses Internet tetapi "tidak menghasilkan apapun". Misal, ada seorang remaja punya akses ke komputer dan Internet. Tapi yang dia lakukan hanya chatting yang biasa-biasa saja. Tentu saja, ia tidak bisa menikmati keuntungan-keuntungan yang diberikan oleh teknologi digital. Itu artinya, kesenjangan digital tidak hanya bisa dijawab dengan penyediaan infrastruktur saja. Infrastruktur tentu dibutuhkan tetapi persoalannya adalah ketika orang punya komputer dan bisa mengakses Internet, pertanyaan berikutnya adalah, "apa yang mau diakses? Apa yang mau dia kerjakan dengan peralatan itu, dengan keunggulan-keunggulan teknologi itu.
5.      Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi masyarakat juga mempengaruhi timbulnya digital divide. Ketika mereka hanya memiliki penghasilan yang hanya cukup digunakan untuk keperluan sehari- hari , mereka tidak pernah berpikir untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Dan sebagian dari mereka sudah merasa puas jika mereka dapat makan dengan penghasilan yang mereka dapatkan.

Dampak Positif Digital Divide

Dampak positif kesenjangan digital bagi sebagian orang yang belum mengenal atau menerapkan teknologi adalah masyarakat dapat termotifasi untuk ikut ambil bagian dalam peningkatan teknologi informasi. Teknologi informasi merupakan teknologi masa kini yang dapat menyatukan atau menggabungkan berbagai informasi, data dan sumber untuk dimanfaatkan sebagai ilmu bagi kegunaan seluruh umat manusia melalui penggunaan berbagai media dan peralatan telekomunikasi modern. 
Dengan menggunakan berbagai media, peralatan telekomunikasi dan computer canggih, Teknologi Informasi akan terus berkembang dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan dan peradaban umat manusia di seluruh dunia. Kemajuan peradaban manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad informasi ini telah memudahkan manusia berkomunikasi antara satu dengan lainnya. 
   
Dampak Negatif Digital Divide
Munculnya digital divide sangat berpengaruh dalam semua bidang kehidupan masyarakat dan membawa dampak negatif bagi mereka yang belum menikmati teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Bagi mereka yang mampu menghasilkan teknologi dan sekaligus memanfaatkan teknologi memiliki peluang besar untuk mengelola sumber daya ekonomi, sementara yang tidak memiliki teknologi harus puas sebagai penonton saja. Sehingga yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Dampak ini juga jelas terlihat dari kualitas pendidikan. Kesenjangan ini akan mengakibatkan orang yang tidak mengerti TIK akan jauh tertinggal dengan mereka yang sudah mengenalnya sehingga pendidikan tidak merata.

Kesenjangan digital berdampak kepada kesenjangan sosial. Chen dan Welman mengungkapkan bahwa kelompok sosial dan negara yang berada di kelompok yang salah dalam kesenjangan dijital dapat terkucilkan dari ekonomi pengetahuan. Dengan kata lain, jika kesenjangan yang telah ada sebelumnya membuat orang tidak dapat menggunakan komputer dan Internet, kesenjangan ini semakin hari semakin meningkat  karena pemanfaatan internet semakin tinggi misalnya untuk mencari pekerjaan, mencari informasi, dan terlibat dalam kegiatan sipil maupun kewirausahaan
Digital devide di Indonesia

Digital divide didefinisikan sebagai perbedaan infostate suatu propinsi. Berdasarkan hasil perhitungan infostate, maka akan diperoleh nilai indeks digital divide tiap propinsi. Propinsi DKI Jakarta sebagai propinsi acuan untuk perhitungan digital divide karena nilai infostate paling tinggi.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai indeks digital divide propinsi Papua paling besar dibanding dengan propinsi lainnya. Hal ini disebabkan infrastrutur TIK, kemampuan mengakses TIK/skill penduduk di Papua serta penggunaan TIK paling sedikit dibanding dengan propinsi lainnya.Selanjutnya propinsi Nusa Tenggara Timur pada urutan ke dua untuk tingkat kesenjangan digital setelah Papua karena sangat sedikit infrastruktur TIK terutama infrastruktur wireless sehingga penggunaan TIK nya juga sangat sedikit. Kemudian Sulawesi Barat berada pada posisi ke tiga karena infrastruktur wirelessnya sangat sedikit, tidak sebanding dengan penduduknya sehingga kemajuan TIK nya sangat lambat.
Nilai kesenjangan digital paling rendah terhadap propinsi DKI Jakarta adalah propinsi D.I Yogyakarta karena infrastruktur TIK baik jaringan maupun fasilitas TIK di propinsi D.I Yogyakarta paling banyak setelah DKI Jakarta. Selain itu kemampuan/skill mengakses TIK penduduk di propinsi D.I Yogyakarta sangat tinggi sehingga penggunaan TIK juga cukup besar.
DKI Jakarta sebagai propinsi dengan nilai infostate paling tinggi karena infrastruktur TIK, kemampuan penduduk untuk mengakses/skill TIK sangat besar sehingga tingkat penggunaannya TIK nya paling tinggi dibanding propinsi lainnya. Prioritas pembangunan ICT di daerah sebaiknya dari propinsi dengan nilai indeks infostate paling kecil yaitu propinsi Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah.
  

Solusi Mengurangi Kesenjangan Digital

Langkah yang terbaik untuk mengurangi kesenjangan digital adalah menyiapkan masyarakat untuk bisa menangani, menerima, menilai , memutuskan dan memilih informasi yang tersedia. Penyiapan kondisi psikologis bagi masyarakat yang menerima, menilai, memutuskan dan memilih informasi bagi diri merka sendiri akan lebih efektif dan mendewasakan masyarakat untuk bisa mengelola informasi dengan baik. Pembangunan fasilitas telekomunikasi antara kota dan desa, dan memprioritaskan pembangunan ICT di pedalaman, Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris karena materi di Internet hampir semuanya dalam bahasa Inggris merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kesenjangan digital. Selain itudapat juga dilakukan dengan memperbanyak materi dalam bahasa Indonesia.Selain itu setiap negara harus memilki peraturan yang mengatur tentang sikap dalam menggunakan komputer dan internet. Harus bisa membedakan waktu antara bermain internet dengan waktu untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang sehingga tidak membuat seseorang terlalu memperhatikan kehidupannya yang berada di dunia maya. Jika pemerintah belum bisa mengurangi kesenjangan digital, maka perlu adanya peran diktator yang dapat mengubah warga supaya bisa taat kepada peraturan yang ada.

 

Daftar pustaka :

Norris, Pippa. (2001). Digital Devide: Civic Engagement, Information Poverty, and the Internet Worldwide. UK: The Press Syndicate of The University of Cambridge.

https://irmapanjaitan16.wordpress.com/2014/04/07/mempersempit-digital-divide-di-indonesia/ diakses pada Selasa, 22 Maret 2016.

http://kommas072511045.blogspot.co.id/2015/03/digital-devide.html diakses pada Selasa, 22 Maret 2016.