by : Citra Faradilla Putri (F1C014023)
Digital Devide di Indonesia
Digital divide atau kesenjangan digital
mempunyai arti sebagai kesenjangan antara individu, rumah tangga, bisnis, (atau
kelompok masyarakat) dan area geografis pada tingkat sosial ekonomi yang
berbeda dalam hal kesempatan atas akses teknologi informasi dan komunikasi/TIK
(information and communication technologies/ ICT) atau telematika
dan penggunaan internet untuk beragam aktivitas. Jadi, digital divide atau
―kesenjangan digital‖ sebenarnya mencerminkan beragam kesenjangan dalam
pemanfaatan telematika dan akibat perbedaan pemanfaatannya dalam suatu negara
dan/atau antar Negara (Baszlink, 2011).
Ketakseimbangan yang terjadi ini bisa saja berupa
ketakseimbangan yang bersifat fisik (tidak mempunyai akses terhadap komputer
dan perangkat IT lainnya) atau yang bersifat keterampilan yang diperlukan untuk
dapat berperan serta sebagai warga digital. Jika pembagian mengarah kepada ke
kelompok, kesenjangandigital ini dapat dikaitkan dengan perbedaan
sosial ekonomi misalnya antara si kaya dan si miskin, generasi misalnya antara
yang tua dan yang muda dan geografis(perkotaan/pedesaan)
Istilah digital divide atau
kesenjangan digital mulai dikenal pada pertengahan tahun 1990. Kesenjangan
digital merupakan suatu cara untuk mendeskripsikan perbedaan antara orang yang
bisa mengakses internet dengan orang yang tidak mengakses internet. Terdapat
beberapa karakteristik yang dapat membantu untuk memahami kesenjangan digital,
yaitu pendapatan, umur, jenis kelamin, ras, etnis, pendidikan, latar belakang
bahasa, dan wilayah geografis. Norris dalam Digital Divide:
Civic Engagement, Information Poverty, and the Internet Worldwide (2001:68) menjelaskan bahwa ada tiga
dimensi yang menggambarkan tentang kesenjangan digital, yaitu kesenjangan
sosial, kesenjangan global dan kesenjangan demokratis.
Kesenjangan sosial yang dimaksud
dalam konteks ini adalah celah antara orang yang kaya informasi dengan orang
yang miskin informasi dalam suatu negara. Kesenjangan ini terjadi ketika di
suatu negara terdapat masyarakat yang dapat mengikuti perkembangan jaman yang
ada dan disatu sisi terdapat masyarakat yang tidak dapat mengikuti perkembangan
jaman. Kasus ini terjadi di Indonesia, contohnya sebagian besar masyarakat
Indonesia sudah mengikuti perkembangan jaman sehingga sudah secara bebas dan
leluasa dapat mengakses informasi yang ada. Namun disisi lain terdapat
masyarakat yang sama sekali tidak mengetahui tentang adanya internet, yaitu
Suku Badui dan suku-suku lainnya yang berada di Indonesia sebagian besar dari
mereka menutup diri dari peradaban luar sehingga informasi yang diterima juga
sedikit.
Kesenjangan global
terjadi ketika terdapat celah antara negara berkembang dan negara industri.
Kesenjangan digital ini dapat terjadi jika negara industri sudah mengembangkan
berbagai teknologi secara maju, sedangkan negara berkembang masih dalam proses
untuk menerima perkembangan teknologi. Amerika sebagai negara industri telah
menggunakan hologram sedangkan di Indonesia sendiri masih belum begitu mengerti
tentang hologram. Akan terjadi kesenjangan digital jika masyarakat Indonesia
berada di Amerika, karena perkembangan teknologi yang berbeda.
Kesenjangan demokratis dapat terjadi jika seseorang
menggunakan internet sebagai partisipasi dalam kewarnegaraan dan seseorang yang
lain menjadi konsumer yang pasif dalam penggunan internet.
Kesenjangan-kesenjangan yang terjadi di atas merupakan karakteristik terjadinya
kesenjangan digital yang menjadi pokok pembicaraan akhir-akhir ini. Teknologi
sudah semakin berkembang dan masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengerti
tentang perkembangan teknologi yang ada, inilah penyebab dari kesenjanga
digital atau digital divide.
Penyebab digital divide
dikarenakan faktor-faktor antara lain sebagai berikut (YohanisMallisa', 2009):
1.
Infrastruktur
Infrastruktur merupakan sebuah fasilitas pendukung kelancaran dalam mengakases suatu teknologi. Infrastruktur tersebut misalnya listrik, internet dan komputer. Sebagai contoh mengenai kesenjangan infrastruktur ini, orang yang punya akses ke komputer bisa bekerja dengan cepat mengerjakan tugasnya dibanding orang yang masih menggunakan mesin ketik manual. Contoh yang lain, orang yang mempunyai akses ke komputer dan ke Internet, otomatis mempunyai wawasan yang lebih luas ketimbang mereka yang sama sekali tidak punya akses ke informasi di Internet yang serba luas.
Infrastruktur merupakan sebuah fasilitas pendukung kelancaran dalam mengakases suatu teknologi. Infrastruktur tersebut misalnya listrik, internet dan komputer. Sebagai contoh mengenai kesenjangan infrastruktur ini, orang yang punya akses ke komputer bisa bekerja dengan cepat mengerjakan tugasnya dibanding orang yang masih menggunakan mesin ketik manual. Contoh yang lain, orang yang mempunyai akses ke komputer dan ke Internet, otomatis mempunyai wawasan yang lebih luas ketimbang mereka yang sama sekali tidak punya akses ke informasi di Internet yang serba luas.
2.
Kekurangan skill (SDM)
Sumber
daya manusia sangat berpengaruh dalam dunia ilmu teknologi dan informasi karena
SDM ini menentukan biasa tidaknya seorang mengoperasikan atau mengakses sebuah informasi.
3.
Kekurangan isi (konten) materi bahasa
indonesia
Konten
berbahasa Indonesia menentukan bisa tidaknya seorang dapat mengerti mengakses
Internet. Pada daerah dengan orang yang mempunyai tingkat pendidikan lebih
tinggi dapat lebih mudah memahami konten berbahasa Inggris dibandingkan daerah
dengan orang yag berpendidikan lebih rendah. Oleh karena itu konten sangat
perlu disesuaikan dengan daerah masing-masing. Daerah pedesaan sebaiknya diberikan
konten dengan lebih banyak bahasa Indonesia,sehingga mereka lebih mudah untuk
memahami isi konten tersebut.
4.
Kurangnya pemanfaatan akan internet itu
sendiri.
Berbicara
mengenai kesenjangan digital, bukanlah sematamata persoalan infrastuktur. Banyak
orang memiliki komputer, bahkan setiap hari, setiap jam- bisa mengakses
Internet tetapi "tidak menghasilkan apapun". Misal, ada seorang
remaja punya akses ke komputer dan Internet. Tapi yang dia lakukan hanya
chatting yang biasa-biasa saja. Tentu saja, ia tidak bisa menikmati keuntungan-keuntungan
yang diberikan oleh teknologi digital. Itu artinya, kesenjangan digital tidak
hanya bisa dijawab dengan penyediaan infrastruktur saja. Infrastruktur tentu
dibutuhkan tetapi persoalannya adalah ketika orang punya komputer dan bisa
mengakses Internet, pertanyaan berikutnya adalah, "apa yang mau diakses?
Apa yang mau dia kerjakan dengan peralatan itu, dengan keunggulan-keunggulan
teknologi itu.
5. Kondisi Ekonomi
Kondisi
ekonomi masyarakat juga mempengaruhi timbulnya digital
divide. Ketika mereka hanya memiliki penghasilan yang hanya cukup
digunakan untuk keperluan sehari- hari , mereka tidak pernah berpikir untuk
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Dan sebagian dari mereka sudah
merasa puas jika mereka dapat makan dengan penghasilan yang mereka dapatkan.
Dampak Positif Digital Divide
Dampak positif kesenjangan digital bagi sebagian orang
yang belum mengenal atau menerapkan teknologi adalah masyarakat dapat
termotifasi untuk ikut ambil bagian dalam peningkatan teknologi informasi.
Teknologi informasi merupakan teknologi masa kini yang dapat menyatukan atau
menggabungkan berbagai informasi, data dan sumber untuk dimanfaatkan sebagai
ilmu bagi kegunaan seluruh umat manusia melalui penggunaan berbagai media dan
peralatan telekomunikasi modern.
Dengan
menggunakan berbagai media, peralatan telekomunikasi dan computer canggih,
Teknologi Informasi akan terus berkembang dan mempunyai peranan yang sangat
penting dalam kehidupan dan peradaban umat manusia di seluruh dunia. Kemajuan
peradaban manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad informasi
ini telah memudahkan manusia berkomunikasi antara satu dengan lainnya.
Dampak
Negatif Digital Divide
Munculnya digital divide sangat
berpengaruh dalam semua bidang kehidupan masyarakat dan membawa dampak negatif
bagi mereka yang belum menikmati teknologi informasi dan komunikasi tersebut.
Bagi mereka yang mampu menghasilkan teknologi dan sekaligus memanfaatkan
teknologi memiliki peluang besar untuk mengelola sumber daya ekonomi, sementara
yang tidak memiliki teknologi harus puas sebagai penonton saja. Sehingga yang
kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Dampak ini juga jelas
terlihat dari kualitas pendidikan. Kesenjangan ini akan mengakibatkan orang
yang tidak mengerti TIK akan jauh tertinggal dengan mereka yang sudah
mengenalnya sehingga pendidikan tidak merata.
Kesenjangan
digital berdampak kepada kesenjangan sosial. Chen dan Welman mengungkapkan
bahwa kelompok sosial dan negara yang berada di kelompok yang salah dalam
kesenjangan dijital dapat terkucilkan dari ekonomi pengetahuan. Dengan kata lain,
jika kesenjangan yang telah ada sebelumnya membuat orang tidak dapat
menggunakan komputer dan Internet, kesenjangan ini semakin hari semakin
meningkat karena pemanfaatan internet semakin tinggi misalnya untuk
mencari pekerjaan, mencari informasi, dan terlibat dalam kegiatan sipil maupun
kewirausahaan
Digital devide di Indonesia
Digital divide
didefinisikan sebagai perbedaan infostate suatu propinsi. Berdasarkan hasil
perhitungan infostate, maka akan diperoleh nilai indeks digital divide tiap
propinsi. Propinsi DKI Jakarta sebagai propinsi acuan untuk perhitungan digital
divide karena nilai infostate paling tinggi.
Dari tabel di
atas dapat dilihat bahwa nilai indeks digital divide propinsi Papua paling
besar dibanding dengan propinsi lainnya. Hal ini disebabkan infrastrutur TIK,
kemampuan mengakses TIK/skill penduduk di Papua serta penggunaan TIK paling
sedikit dibanding dengan propinsi lainnya.Selanjutnya propinsi Nusa Tenggara
Timur pada urutan ke dua untuk tingkat kesenjangan digital setelah Papua karena
sangat sedikit infrastruktur TIK terutama infrastruktur wireless sehingga
penggunaan TIK nya juga sangat sedikit. Kemudian Sulawesi Barat berada pada
posisi ke tiga karena infrastruktur wirelessnya sangat sedikit, tidak sebanding
dengan penduduknya sehingga kemajuan TIK nya sangat lambat.
Nilai
kesenjangan digital paling rendah terhadap propinsi DKI Jakarta adalah propinsi
D.I Yogyakarta karena infrastruktur TIK baik jaringan maupun fasilitas TIK di propinsi
D.I Yogyakarta paling banyak setelah DKI Jakarta. Selain itu kemampuan/skill
mengakses TIK penduduk di propinsi D.I Yogyakarta sangat tinggi sehingga penggunaan
TIK juga cukup besar.
DKI Jakarta
sebagai propinsi dengan nilai infostate paling tinggi karena infrastruktur TIK,
kemampuan penduduk untuk mengakses/skill TIK sangat besar sehingga tingkat penggunaannya
TIK nya paling tinggi dibanding propinsi lainnya. Prioritas pembangunan ICT di
daerah sebaiknya dari propinsi dengan nilai indeks infostate paling kecil yaitu propinsi Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah.
Solusi Mengurangi Kesenjangan Digital
Langkah yang terbaik untuk
mengurangi kesenjangan digital adalah menyiapkan masyarakat untuk bisa
menangani, menerima, menilai , memutuskan dan memilih informasi yang tersedia.
Penyiapan kondisi psikologis bagi masyarakat yang menerima, menilai, memutuskan
dan memilih informasi bagi diri merka sendiri akan lebih efektif dan mendewasakan
masyarakat untuk bisa mengelola informasi dengan baik. Pembangunan fasilitas
telekomunikasi antara kota dan desa, dan memprioritaskan pembangunan ICT di
pedalaman, Meningkatkan
kemampuan bahasa Inggris karena materi di Internet hampir semuanya
dalam bahasa Inggris merupakan salah satu upaya untuk mengurangi
kesenjangan digital. Selain itudapat juga dilakukan dengan memperbanyak materi
dalam bahasa Indonesia.Selain
itu setiap negara harus memilki peraturan yang mengatur tentang sikap dalam
menggunakan komputer dan internet. Harus bisa membedakan waktu antara bermain
internet dengan waktu untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang
sehingga tidak membuat seseorang terlalu memperhatikan kehidupannya yang berada
di dunia maya. Jika pemerintah belum bisa mengurangi kesenjangan digital, maka
perlu adanya peran diktator yang dapat mengubah warga supaya bisa taat kepada
peraturan yang ada.
